Banjir di Sumatera Picu Pengungsian, Ini Risiko Kesehatan Mental yang Perlu Diwaspadai

Banjir di Sumatera Picu Pengungsian, Ini Risiko Kesehatan Mental yang Perlu Diwaspadai
Natural disaster cartoon composition of outdoor landscape with living houses and rainy clouds with flood water vector illustration SSUCv3H4sIAAAAAAACA02RQU/DMAyF/4rlc8VA3HpEmpAQoAnEaeLgJd5mLY2nJO2Ypv53nG5F3OL45T37ywU3lMVhe0EJoc8lURGN2D40yF6KJqGA7f3YYC5U+szZtFY5Kryz7lTPJutLvccWn3oJXuIuL14p+o7SIaM59BvrvannFGGW4NjMr94tIPGf8Cua8GQ5CcfvBmnH0Z1rusUnDkzTMGtrHU4m6m6TDeJZr0fqvdQjDuooWP+xTm5baldvd4mOe3FJBouw2nN2aZ6DAnjJlM0ZHKWiGsFpd9QslRDoFrQvXjVBsB2zoyPDScoeggy2F+y10gLrQSKJZ3BBe5+vmm1Q9TAtBwM74wz/+d/B0uDTJjAsV5+TxwdXHCARXlbPsNXUGbMGy08lh80N4dUrLzw7rVZDxakH+89xHH8BbL9N6+0BAAA=

Wilayah Sumatera bagian barat sedang mengalami musibah banjir besar yang disertai oleh gelondongan kayu besar serta air berlumpur yang merendam rumah warga. Selain rumah warga, banjir juga merusak fasilitas umum yang membuat warga yang terdampak banjir harus meninggalkan rumah mereka.

Harta benda dan nyawa menjadi salah satu permasalahan yang diakibatkan banjir sebesar ini. Adanya pengalaman traumatis yang juga timbul mengakibatkan adanya perubahan rasa aman dan stabilitas hidup para korban bencana banjir tersebut.

Sayangnya, pengalaman traumatis akibat banjir ini sering kali dikesampingkan karena kebanyakan tidak terlihat gejalanya dan atau terlihat tidak separah kerusakan fisik dan kebutuhan darurat lain.

Risiko gangguan kesehatan mental pasca banjir telah dijelaskan di beberapa penelitian yang pernah dilakukan. Temuan ilmiah ini menjadi penting untuk memahami potensi dampak yang dapat dialami korban banjir di Sumatera, terutama mereka yang harus mengungsi.

Pengungsian dan Tekanan Psikologis

Tempat pengungsian sebagai suaka sementara di tengah bencana yang terjadi, namun perpindahan tempat tinggal secara mendadak memunculkan tekanan mental pada korban bencana. Korban kehilangan rumah, harus terputus komunikasi dengan dunia luar, belum lagi masa depan yang tidak pasti menjadi sumber stress dari korban banjir.

Penelitian yang ditulis pada tahun 2015 dan 2018 telah menjelaskan bahwa korban banjir yang harus mengungsi lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan korban yang terdampak tapi tidak harus meninggalkan rumah. Hal ini disebabkan oleh tempat pengungsian yang sangat padat, keterbatasan privasi hingga minimnya fasilitas.

Korban banjir di Sumatera sendiri begitu banyak dan memenuhi tempat pengungsian dengan mengandalkan bantuan dan kondisi tersebut masih tidak menentu karena kurangnya jumlah bantuan dibanding dengan jumlah korban terdampak. Hal ini tentu meningkatkan beban psikologis korban.

Depresi, Kecemasan, dan Trauma Pascabanjir

Laporan terhadap kejadian depresi, kecemasan dan gangguan stress pasca trauma atau PTSD masih dilaporkan meski kejadian banjir telah berlalu selama setahun berdasarkan penelitian yang dilakukan di sebuah negara maju di Eropa.

Hal ini menunjukkan gangguan mental tidak langsung muncul begitu banjir datang tapi berkembang cukup lama setelah bencana terjadi yang dikarenakan dampak psikologis tidak berhenti ketika lingkungan sudah pulih akan tetapi dampaknya bersifat jangka panjang.

Kehilangan, ketidakpastian dan perubahan rutinitas akibat dari banjir besar dapat memicu gangguan kesehatan mental bagi korban banjir di Sumatera.

Dampak yang Tidak Terlihat

Korban banjir sering kali masih berkegiatan normal sama seperti sebelum terjadinya bencana dan sama sekali tidak menunjukkan gejala yang mengarah kepada gangguan kesehatan mental. Hal ini menyulitkan deteksi dampak kesehatan mental yang terjadi pada korban yang mengakibatkan lambatnya penanganan kesehatan mental pada korban banjir.

Sama juga seperti yang dialami warga Sumatera yang terdampak banjir. Mereka nampak menyemangati balik relawan yang datang memberi bantuan tapi ikut bersedih melihat kondisi mereka. Korban banyak yang tersenyum bahagia karena mereka merasa masih banyak yang peduli di tengah musibah yang mereka alami.

Kelompok Rentan Mengalami Gangguan Kesehatan Mental

Kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental adalah anak-anak, lansia, perempuan, serta seseorang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Anak-anak yang terbiasa dengan lingkungan rumah harus dipaksa berubah dengan rutinitas baru bahkan harus kelaparan karena kurangnya makanan. Lansia lebih rentan karena harus merasakan kehilangan dan kehilangan kendali atas hidupnya yang membuat mereka harus sangat bergantung pada orang lain.

Peringatan dalam pencegahan banjir yang minim atau bahkan yang tidak ada sama sekali menjadikan risiko bertambahnya kelompok rentan akan gangguan kesehatan mental. Hal ini dikarenakan kurangnya waktu untuk bersiap mengakibatkan meningkatnya rasa takut dan rasa tidak berdaya saat bencana terjadi.

Kondisi setelah banjir lebih banyak mempengaruhi kesehatan mental korban dibandingkan dengan peristiwa banjir itu sendiri. Lingkungan yang belum pulih setelah terjadinya banjir memunculkan berbagai masalah seperti ketidakpastian ekonomi apalagi jika proses pemulihan yang lamban dapat memperpanjang tekanan psikis yang dialami oleh korban banjir.

Ketersediaan dukungan psikolog di lokasi pengungsian merupakan sebuah langkah penting untuk membantu pengelolaan tekanan emosi yang dialami oleh korban.